JAKARTA – Di penghujung Festival Teater Indonesia (FTI) 2025 di Jakarta, sebuah pertunjukan tampil dengan cara yang tidak biasa. Teater Roh, garapan Andi Bahar Merdhu, memberi nuansa segar sekaligus mengajak penonton tersenyum sambil berpikir.
Dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Roh menjadi penanda akhir perjalanan festival yang sebelumnya singgah di Medan, Palu, dan Mataram.
Pertunjukan ini merupakan alihwahana dari cerpen berjudul sama karya Putu Wijaya. Bagi Bahar Merdhu, teks itu bukan bacaan biasa. Ia mengaku pertama kali membaca cerpen Roh pada era 1980-an di sebuah perpustakaan, dan kisahnya melekat kuat dalam ingatan.
“Saking kuatnya, beberapa naskah awal yang saya tulis untuk Petta Puang banyak mengambil potongan cerita dari Roh,” ujarnya.
Petta Puang adalah kelompok teater yang ia dirikan dan dikenal kerap mengolah tradisi teater rakyat.
Cerita Roh berangkat dari hal sederhana: seorang pembantu rumah tangga bernama Roh ingin merayakan ulang tahunnya. Ia melihat keluarga majikannya dan para tetangga merayakan hari lahir mereka dengan meriah. Roh, yang berasal dari keluarga pemain tonil di kampungnya, pun ingin merasakan hal serupa. Awalnya keinginannya dikabulkan. Namun masalah muncul ketika Roh kembali meminta pesta ulang tahun pada pekan berikutnya. Keluarga majikan merasa jengkel.
Dari situlah konflik berkembang. Roh mulai menjalankan “teror” di rumah majikannya. Dengan kemampuan tonil yang ia miliki, suasana rumah dibuat mencekam, seolah-olah dihantui. Namun Bahar Merdhu tidak membawa cerita ini ke arah horor konvensional. Justru pada bagian akhir, ia membongkar seluruh ilusi. Semua yang terjadi di atas panggung diakui sebagai sandiwara belaka.
Konvensi teater realis diperlakukan dengan santai. Aktor berakting seolah-olah saja: seolah-olah makan, seolah-olah minum, seolah-olah berjualan sayur, bahkan seolah-olah menjadi pembantu. Penonton dibiarkan sadar bahwa yang mereka saksikan adalah permainan simbol dan akting, bukan realitas yang harus dipercaya sepenuhnya.
“Alihwahana bagi saya berlapis-lapis,” kata Bahar. “Dari membaca cerpen Putu Wijaya, mengendap kuat di kepala, lalu saya pindahkan ke naskah, dan berkembang lagi ketika membuat adegan di panggung.” Ia bahkan membayangkan dirinya sedang “mengendalikan” Putu Wijaya, memperlakukannya sebagai Roh itu sendiri, dengan tonil sebagai medium persembahan.
Penokohan, logika ruang, latar waktu, hingga bloking sengaja dihadirkan secara minimal. Ada nada nyinyir terhadap keseriusan pakem realisme teater. Salah satunya tampak dalam dialog nyonya yang menegur Roh karena membelakangi penonton—sebuah satire halus terhadap aturan konvensional panggung.
Suasana semakin cair ketika adegan pesta ulang tahun Roh. Beberapa penonton diajak naik ke panggung untuk menjadi tamu pesta. Tak hanya itu, pertunjukan juga menghadirkan pesta kuda lumping, mempertegas jejak teater rakyat yang menjadi ciri khas Bahar Merdhu.
Maestro teater dan sastrawan Asia Ram Prapanca menilai publik Jakarta tampak terpukau menyaksikan Roh. Menurutnya, gaya teror dan mistik Putu Wijaya diramu dengan kekhasan Bahar Merdhu yang jenaka. “Roh menciptakan teror yang mencekam tapi lembut. Tapi di akhir pertunjukan diakui sebagai lenong atau sandiwara. Penonton dibuat sadar sekaligus terhibur,” ujar Asia Ram, yang juga dosen seni.
Dalam diskusi setelah pementasan, para kurator FTI memuji Roh sebagai alihwahana yang kreatif, inovatif, dan cerdas. Beberapa menyebut pertunjukan ini terasa sangat berbeda dibanding karya peserta lain, terutama dalam keberaniannya membongkar pakem.
FTI 2025 menghadirkan lima kelompok teater dan seniman individu dari berbagai penjuru Indonesia. Festival ini menjadi ruang temu lintas kota sekaligus wadah ekspresi bagi ekosistem teater tanah air. Diselenggarakan oleh Titimangsa bekerja sama dengan PENASTRI (Perkumpulan Nasional Teater Indonesia), FTI didukung Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Kementerian Kebudayaan RI. Di Jakarta, Roh menutup festival dengan teror yang ringan, jenaka, dan penuh kesadaran bahwa panggung—pada akhirnya—adalah ruang bermain bersama.(#)




