MAKASSAR – Lampu bioskop CGV Mal Panakkukang meredup perlahan pada Jumat malam, 26 Desember 2025.
Di dalam ruang gelap itu, Makassar seperti sedang memanggil pulang dua anak sejarahnya yang lama berkelana jauh dari rumah: Dg Manggalle dan Syekh Yusuf. Bukan lewat buku teks atau pidato seremonial, melainkan lewat layar lebar.
Dua film dokudrama Dg Manggalle: Pangeran Makassar dan Syekh Yusuf: Ziarah Panjang Sang Sufi diputar perdana dalam sebuah gala terbatas yang digelar Dinas Kebudayaan Kota Makassar bersama Sky Project.
Penonton malam itu bukan hanya pejabat dan seniman, tapi juga saksi dari sebuah upaya: menghidupkan kembali sejarah yang selama ini terasa jauh, dingin, dan terlalu akademis.
Kursi-kursi bioskop diisi Staf Ahli Pemkot Makassar Akhmad Namsum yang mewakili wali kota, Kepala Dinas Kebudayaan Andi Pattiware, Kepala Bappeda Dahyal, Sekretaris Kebudayaan Syahruddin, serta para sineas, pemeran, dan tokoh budaya. Namun pusat perhatian malam itu bukan mereka. Yang berdiri di tengah sorot lampu adalah dua tokoh masa lalu seorang bangsawan pejuang dan seorang sufi pengembara yang kisah hidupnya pernah melintasi laut, benua, dan penjara kolonial.
Alih-alih memilih dokumenter konvensional, para pembuat film mengambil jalan dokudrama. Sejarah tidak hanya dituturkan lewat suara narator dan potongan wawancara, tetapi direka ulang dalam adegan-adegan dramatik.
Aktor hadir sebagai tubuh bagi ingatan. Kamera bergerak mengikuti konflik, pengasingan, dan perjalanan spiritual.
“Dokudrama lebih mudah diterima oleh masyarakat luas,” kata Ahmad Wildan Noumeiru, sutradara Dg Manggalle.
“Kalau dokumenter murni, kadang terasa eksklusif. Kami ingin anak-anak dan masyarakat umum yang terbiasa dengan film fiksi juga bisa masuk.”lanjutnya.
Pendekatan itu terasa bekerja. Di beberapa bagian film, penonton tampak terdiam lebih lama dari biasanya. Adegan-adegan dramatik memberi jarak yang cukup dari fakta mentah, namun tetap setia pada riset. Narasumber yang dihadirkan tak hanya sejarawan dan budayawan dari dalam negeri, tetapi juga peneliti dari Thailand, Prancis, dan Afrika Selatan tempat-tempat yang menyimpan jejak panjang Syekh Yusuf dan Dg Manggalle dalam pengasingan dan perlawanan.
Syekh Yusuf, ulama dan pejuang yang wafat jauh dari tanah kelahirannya, dibingkai sebagai sosok spiritual yang tak pernah benar-benar selesai dalam pengasingan. Sementara Dg Manggalle tampil sebagai figur bangsawan Makassar yang berkelindan dengan politik kolonial, perlawanan, dan harga diri.
Bagi Akhmad Namsum, dua film ini bukan sekadar tontonan sejarah. “Yang terasa kuat adalah makna keberanian dan perjuangannya,” ujarnya. “Ini inspirasi bagi masyarakat Makassar dan Sulawesi Selatan.”
Kepala Dinas Kebudayaan Makassar Andi Pattiware menyebut film-film ini sebagai bagian dari strategi kebudayaan kota, film-film ini akan diputar di sekolah-sekolah, bersamaan dengan program Museum Keliling, agar generasi muda berjumpa dengan masa lalunya melalui medium yang akrab.
Produksi kedua film memakan waktu hampir setahun. Tahap paling panjang justru bukan pengambilan gambar, melainkan riset dan pengurusan izin lintas negara. Proses syuting sendiri berlangsung sekitar tiga bulan. Dg Manggalle diproduksi Sky Project, sementara Syekh Yusuf digarap Hendrawan Hasrul bersama Catatan Kaki—keduanya dibiayai oleh Dinas Kebudayaan Kota Makassar.
Di tengah arus zaman yang cepat melupakan, dua film ini seperti upaya menyalakan kembali ingatan kolektif. Bahwa sejarah bukan sekadar catatan tentang siapa menang dan siapa kalah, melainkan kisah tentang manusia yang memilih berjalan, melawan, dan berziarah—bahkan ketika tanah air menjauh dari jangkauan pandang.
Malam itu, ketika lampu bioskop kembali menyala, Dg Manggalle dan Syekh Yusuf seakan telah pulang. Setidaknya, untuk sementara. Lewat dua film ini, Makassar sedang belajar mengingat dirinya sendiri.(#)




