MAKASSAR,DJOURNALIST.ID— Malam mencapai puncaknya yang larut ketika dua bunyi pertama keluar dari seruling dan violin. Perlahan, halaman Rumah Kecil Antang berubah menjadi ruang dengar yang sunyi. Tak ada tepuk tangan yang tergesa. Penonton memilih diam, membiarkan setiap nada mencari jalannya sendiri di antara pepohonan, rumah-rumah warga, dan udara malam Antang.
Selama hampir dua puluh menit, komposer musik Maskur Alief Dg Esa membangun lanskap bunyi yang tidak sekadar dimainkan, melainkan dihadirkan sebagai pengalaman. Seruling dan violin bergerak dari melodi-melodi liris menuju ruang improvisasi yang akrab dengan eksplorasi tradisi, mistisisme, dan disiplin musik klasik. Sesekali musik itu terdengar seperti doa, di lain waktu menyerupai desir angin yang berputar di sela dedaunan.
Di tengah komposisi itulah Asia Ramli Prapanca memasuki ruang pertunjukan. Tanpa banyak pengantar, maestro teater dan penyair itu membacakan dua karya terbarunya. Satu puisi menyinggung jejak spiritual Syekh Yusuf, sementara puisi lainnya lahir dari perjumpaannya dengan Rumah Kecil Antang. Asia tidak membacakannya secara utuh. Ia justru menyisakan bagian-bagian yang menggantung, memberi ruang bagi imajinasi pendengar untuk melengkapinya sendiri.
Kolaborasi keduanya menghadirkan penutup yang nyaris meditatif. Musik tidak menjadi latar puisi, begitu pula puisi tidak sekadar menumpang pada musik. Keduanya saling menghidupi, membentuk atmosfer yang membuat batas antara bunyi, kata, dan keheningan menjadi kabur.
Sebelum mencapai puncak itu, Jumpa SEMALAM, Selasa (28/7) yang diinisiasj Sanggar Merah Putih Makassar lebih dulu mengalir melalui beragam ekspresi artistik. Musisi indie Evan Survival membuka malam dengan petikan gitar akustik dan lagu-lagu bertema alam, kehidupan, dan cinta. Lagu-lagunya menghangatkan suasana, seolah mengundang setiap orang untuk memasuki ruang yang tidak dibatasi panggung maupun kursi penonton.
Malam berlanjut dengan pembacaan puisi oleh Irwan AR, Bahar Merdhu, dan Moch Hasymi Ibrahim, penyair lintas generasi yang menghadirkan warna berbeda dalam satu ruang yang sama. Sanggar Seni dan Budaya Esa UIN Alauddin Makassar kemudian tampil dengan kolaborasi violin dan pembacaan puisi yang mengangkat isu kekerasan seksual terhadap perempuan. Tema yang berat itu hadir tanpa kehilangan daya artistiknya, justru memperlihatkan bagaimana puisi tetap dapat menjadi medium kritik sosial.
Pertunjukan demi pertunjukan berlangsung tanpa sekat yang kaku. Penampil dan penonton berada dalam jarak yang nyaris sama dekatnya. Tidak ada lampu sorot megah atau panggung prosenium yang membatasi pandangan. Hanya halaman rumah, pepohonan, bunyi-bunyian malam, dan orang-orang yang datang untuk mendengar serta berbagi pengalaman estetik.
Suasana seperti itulah yang ingin dirawat melalui Jumpa SEMALAM, agenda bulanan yang diinisiasi Sanggar Merah Putih Makassar. Bukan sekadar menghadirkan tontonan, melainkan membangun ruang perjumpaan tempat karya-karya yang masih bertumbuh dapat dipertemukan dengan publik, gagasan diperdebatkan, dan percakapan seni menemukan rumahnya.
Edisi perdananya menunjukkan bahwa pertunjukan tidak selalu memerlukan gedung megah untuk meninggalkan kesan.
Di sebuah rumah kecil di sudut Antang, musik, puisi, dan percakapan berhasil menjadikan Selasa malam sebagai peristiwa kebudayaan yang intim—sebuah ruang tempat seni hadir bukan sebagai kemewahan, melainkan sebagai cara manusia saling mengingat, mendengar, dan merawat harapan.(#)




