MAKASSAR,DJOURNALIST.id — Bagi Dr. Alvira Ramdhani Mars, pemilik EIWA Fashion di Jalan Abdullah Daeng Sirua, membawa uang tunai dalam jumlah besar untuk berbelanja bukan lagi pilihan nyaman. Harga produk yang mencapai Rp1 juta hingga Rp2 juta membuat pelanggan lebih memilih pembayaran digital.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

“Pelanggan sekarang sudah mulai anti cash,” kata Alvira saat ditemui awal September. Di tokonya, QRIS, transfer, dan EDC tersedia, tetapi QRIS menjadi salah satu metode yang paling banyak dipilih. Pembayaran lebih cepat, transaksi langsung terkonfirmasi, dan
pelanggan tak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar.

Perubahan di meja kasir itu mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam aktivitas ekonomi Sulawesi Selatan. QRIS tidak lagi sekadar fasilitas tambahan bagi pedagang, tetapi mulai menjadi bagian dari cara UMKM menjalankan bisnis.

Transaksi QRIS Melaju

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda.

Data Bank Indonesia memperlihatkan laju adopsi tersebut. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan Rizki Ernadi Wimanda dalam pemaparan Perkembangan Terkini Ekonomi Sulawesi Selatan, 27 Agustus 2026, di Hotel Pullman Legian Beach Bali, menyebut volume transaksi QRIS di Sulsel pada Juni 2026 mencapai 28,8 juta transaksi. Angka itu tumbuh 139,6 persen secara tahunan.

Pertumbuhan tersebut jauh melampaui kenaikan jumlah pengguna. Hingga Juni 2026, pengguna QRIS mencapai 1,48 juta orang, tumbuh 17,47 persen. Jumlah merchant sekitar 1,46 juta, meningkat 16,5 persen.

Dari sisi nilai, transaksi QRIS mencapai sekitar Rp2,57 triliun dalam sebulan, atau naik 83 persen dibandingkan Juni 2025.

Kesenjangan antara pertumbuhan volume transaksi dan pertumbuhan pengguna menunjukkan bahwa QRIS tidak hanya semakin banyak digunakan, tetapi juga semakin sering dipakai oleh
pengguna yang sudah ada. Digitalisasi pembayaran perlahan bergeser dari sekadar adopsi teknologi menjadi kebiasaan dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

Tingkat pencapaian terhadap target juga relatif tinggi. Jumlah pengguna telah mencapai sekitar 93,45 persen dari target, sedangkan merchant mencapai 97,93 persen. Bagi perekonomian daerah, perkembangan ini berarti semakin banyak transaksi ekonomi berlangsung melalui kanal digital.

Dari Kasir ke Profil Usaha

Pemanfaatan transaksi digital yang didorong BI bertujuan menciptakan kemudahan transaksi di era digitalisasi.

Manfaat QRIS bagi UMKM tidak berhenti pada kemudahan pembayaran. Digitalisasi juga berpotensi membantu pelaku usaha membangun rekam jejak keuangan.

Salah satu persoalan UMKM selama ini adalah keterbatasan akses terhadap pembiayaan formal. Usaha memang dapat berjalan dan omzet berputar, tetapi pelaku usaha belum tentu memiliki catatan transaksi yang rapi dan mudah digunakan untuk menggambarkan kondisi usaha UMKM.

Transaksi QRIS menghasilkan catatan aktivitas pembayaran. Jika dikelola dengan baik, data tersebut dapat membantu menggambarkan pola penjualan dan aktivitas usaha. BI Sulsel mendorong pemanfaatan data transaksi QRIS untuk business profiling serta membuka peluang pembiayaan produktif UMKM melalui konsep “QRIS to Credit”, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

Konsep itu menempatkan QRIS sebagai bagian dari ekosistem keuangan yang lebih luas. Namun, kepemilikan QRIS tidak otomatis membuat UMKM memperoleh kredit. Kemampuan membayar, kesehatan usaha, kualitas pengelolaan keuangan, dan faktor kehati-hatian tetap menjadi pertimbangan. Karena itu, QRIS lebih tepat dipandang sebagai peluang
memperbaiki profil usaha, bukan jaminan mendapatkan pinjaman.

Pio Etnik: 90 Persen Digital

Pengalaman Pio Etnik memperlihatkan bagaimana pembayaran digital telah menjadi bagian dari operasional UMKM. Damaris Sura Rongre, pemilik sekaligus pendiri usaha tersebut, mengatakan sekitar 90 persen transaksi Pio Etnik kini dilakukan melalui QRIS. Hanya 10
persen yang masih menggunakan uang tunai.

Bisnis yang telah berjalan sekitar 20 tahun itu mencatat omzet sekitar Rp30 juta per bulan dengan sekitar 30 produk terjual. QRIS, yang digunakan selama sekitar tiga tahun, terutama membantu transaksi produk premium karena pelanggan tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar.

Jangkauan pasar Pio Etnik juga telah melampaui Sulawesi Selatan, antara lain ke Bali dan Papua.

Bagi pelaku usaha, perubahan itu juga mengurangi beban operasional sederhana yang selama ini melekat pada transaksi tunai. Pedagang tidak perlu menyiapkan uang kembalian dalam jumlah besar, sementara pelanggan memperoleh pilihan pembayaran yang sesuai dengan kebiasaan mereka. Pada akhirnya, kemudahan tersebut dapat mempercepat transaksi sekaligus membuat pengalaman berbelanja terasa lebih praktis bagi kedua pihak. Perubahan ini semakin terasa.

Pada 2025, Pio Etnik mengikuti program Rewako (Resilient, World Class, Agile, and Knowledgeable) dari BI Sulsel. Program pendampingan tersebut ditujukan untuk mendorong UMKM, petani, dan pesantren naik kelas. Pendampingan mencakup pemasaran, media sosial, website, kemasan, hingga pengelolaan keuangan.

Menurut Damaris, pendampingan itu membantu memperluas pasar. Konsumen dan pengikut media sosial Pio Etnik kini tidak lagi hanya berasal dari Toraja dan Sulawesi Selatan.

Tantangan Berikutnya

Sulawesi Selatan memiliki basis UMKM yang besar, diperkirakan sekitar 1,5 juta unit usaha. Sektor ini antara lain didominasi pertanian sekitar 37 persen dan perdagangan sekitar 29 persen.

Namun, besarnya jumlah pelaku usaha juga diikuti berbagai tantangan. Data
Bank Indonesia mencatat persoalan seperti akses terhadap pembiayaan formal.

Adopsi digital dan produktivitas, akses pasar, serta kapasitas produksi masih
menjadi perhatian. Karena itu, keberhasilan digitalisasi UMKM tidak cukup diukur dari jumlah merchant yang memiliki kode QR. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah transaksi
digital mampu meningkatkan produktivitas, memperluas pasar, memperbaiki pengelolaan keuangan, dan membuka akses pembiayaan.

Jika terhubung dengan pengelolaan usaha yang lebih tertata, QRIS dapat menjadi lebih dari alat pembayaran. Ia bisa menjadi salah satu pintu masuk menuju ekosistem keuangan yang
lebih formal dan membantu UMKM Sulawesi Selatan naik kelas.(***)